PUISI
MERUPAKAN KESUSASTRAAN INDONESIA
Puisi
merupakan salah satu jenis kesusastraan yang ada di Indonesia. Puisi menjadi
karya tulis yang populer baik dalam bentuk tulisan dalam kertas maupun berupa
ketikan melalui komputer. Zaman sekarang yang sudah modern ini membuat kesusastraan
puisi semakin berkembang dan semakin mudah untuk kita jumpai di internet. Tak
hanya itu, banyak sastrawan puisi yang lahir seiring dengan perkembangan zaman.
Contohnya seperti Aan Mansyur, Dea Anugerah, Norman Erikson Pasaribu, Addimas
Imanuel, Okky Puspa Madasari, Sabda Armandio, Bernard Batubara, dan masih
banyak lagi sastrawan yang lahir pada era milenial ini.
Pengertian Puisi
Secara
umum menyebutkan bahwa puisi adalah kesusastraan yang dibuat oleh seorang
sastrawan atau penulis untuk mengungkapkan perasaan hati penyairnya. Puisi
dilantunkan dengan irama yang indah, memiliki rima, dibentuk berbait-bait,
serta mengandung penuh makna. Puisi dalam penyampaiannya seolah-olah
pendengarnya dapat merasakan apa yang dimaksud penyair dalam suatu karya puisi.
Banyak para ahli yang mengemukakan apa definisi dari puisi. Berikut ini adalah
beberapa definisi puisi dari para ahli :
Menurutnya definisi dari puisi adalah suatu
karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan si penyair dengan cara
imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dalam
pengonsentrasian sebuah struktur fisik dan struktur batinnya. Jadi pada intinya
adalah bahwa puisi dirangkai dengan bahasa yang padu dan ditulis sesuai dengan
perasaan menggambarkan terhadap suatu hal.
Menurut Usman Awan, puisi bukanlah suatu
nyanyian orang putus asa yang mencari ketenangan dan kepuasan dalam puisi yang
ditulisnya. Jadi menurutnya bentuk puisi dirangkai dan disusun tak hanya
mengungkapkan kesedihan, tetapi banyak bentuk ungkapan ekspresi lainnya.
Pengertian puisi menurut Putu Arya ialah
suatu ungkapan secara implisit dan samar, maknanya yang tersirat, dimana
kata-katanya condong pada makna konotatif.
Puisi menurut definisi Herman Waluyo adalah
karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia.
Puisi ialah sebuah bentuk karya sastra yang
kental dengan musik bahasa serta suatu kebijaksanaan oleh si penyair dan
tradisinya. Karena semua kekentalan itu, sesudah puisi tersebut dibaca akan
menjadikan kita lebih bijaksana.
Definisi
yang dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut dapat membuat kita lebih paham
mengenai arti dari puisi. Jadi arti dari puisi tersendiri adalah kesusastraan
yang dibuat oleh seorang penyair menggunakan kekuatan bahasa yang menggambarkan
suatu perasaan dan penyampaiannya membuat pendengarnya seolah-olah dapat
merasakan apa yang dimaksud penyair.
Sejarah Puisi
Banyak
karya kuno, dari Veda India (1700-1200 SM) dan Zoroaster's Gathas (1.200-900
SM) ke Odyssey (800-675 SM), tampaknya telah disusun dalam bentuk puisi untuk
membantu proses menghafal di kalangan masyarakat kuno. Puisi muncul di antara
catatan-catatan paling awal pada masa kebudayaan yang baru mengenal huruf.
Puisi tertua yang ada di daerah Barat adalah Epos Gilgames pada tahun ke-3
sebelum masehi di Sumeria (di Mesopotamia, sekarang Irak) yang ditulis dalam
naskah tulisan kuno berbentuk baji pada tablet tanah liat dan papirus sebagai
medianya.
Sejarah
perkembangan puisi di Indonesia dikenal dengan berbagai jenis puisi sebagai
pendukung perkembangan struktur pada puisi. Puisi pada angkatan balai pustaka
puisi masih berupa mantra, pantun, dan syair. Pada angkatan pujangga baru puisi
mengalami perkembangan dengan cara melepaskan ikatan-ikatan pada puisi lama.
Berikut ini adalah penjelasan detil pada perkembangan puisi di Indonesia hingga
sekarang :
Pada angkatan ini, puisi masih berupa
mantra, pantun, dan syair, yang merupakan puisi terikat. Mantra merupakan jenis
puisi tertua yang terdapat di dalam kesusastraan daerah di seluruh Indonesia.
Kumpulan pilihan kata-kata yang dianggap gaib dan digunakan manusia untuk
memohon sesuatu dari Tuhan. sehingga mantra tidak hanya memiliki kekuatan kata
melainkan juga kekuatan batin. Pantun dan Syair, puisi lama yang struktur
tematik atau struktur makna dikemukkan menurut aturan jenis pantun atau syair,
dalam hal ini, pantun dan syair masih berupa puisi terikat. Pantun dan Syair
merupakan puisi lama yang struktur tematik atau struktur makna dikemukkan
menurut aturan jenis pantun atau syair, dalam hal ini, pantun dan syair masih
berupa puisi terikat.
Jika pada angkatan balai pustaka penulisan
puisi masih banyak dipengaruhi oleh puisi lama, maka pada angkatan Pujangga
Baru diciptakan puisi baru, yang melepaskan ikatan-ikatan puisi lama. Sehingga
munculnya jenis-jenis puisi baru, yaitu : distichon (2 baris), tersina (3
baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris),
oktaf (8 baris), soneta (14 baris). Dalam periode ini terdapat beberapa julukan
untuk penyair Indonesia, seperti Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga
Baru, dan ia disebut oleh H.B. Jassin sebagai Penyair Dewa Irama. J.E.
Tatengkeng disebut sebagai Penyair Api Naionalisme, dan sebagainya. Para
penyair yang dapat dikategorikan masuk dalam periode Pujangga Baru diantaranya adalah
Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, Jan Engel Tatengkeng, Asmara
Hadi.
Pada angkatan ini bentuk puisi soneta,
tersina, dan sebagainya tidak dipergunakan lagi. Dasar angkatan 45 ini adalah
adanya ‘Surat Keperecayaan Gelanggang’, yang berbunyi :
Kami
adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami
teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan
pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru
yang sehat dapat dilahirkan.
Keindonesiaan kami tidak
semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau
tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang
diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.
Kami tidak akan memberi
kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan
lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu
penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh
kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang
dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala
usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran
nilai.
Revolusi bagi kami ialah
penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan.
Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum
selesai.
Dalam penemuan kami, kami
mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami
mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.
Penghargaan kami terhadap
keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui
adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.
Pada
angkatan 45 puisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-
Memiliki struktur bebas.
-
Kebanyakan beraliran ekspresionisme dan
realisme.
-
Mengungkapkan pengalaman batin penyair.
-
Menggunakan bahasa sehari-hari.
-
Banyak puisi bergaya sinisme dan ironi.
-
Puisinya juga menyatakan permasalahan
kemasyarakatan, dan kemanusiaan.
Penyair
pada periode angkatan ini diantaranya ada Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Harjadi
S. Hartowardojo.
Pada periode ini membicarakan masalah
kemasyarakatan yang menyangkut warna kedaerahan. Sifat revolusioner yang
berapi-api, mulai merada. Mulai banyaknya puisi beraliran romantik dan
kedaerahan dengan gaya penceritaan balada (sajak sederhana). Puisi pada periode
ini banyak yang mengungkapkan subkultur, suasana muram, masalah sosial, cerita
rakyat, dan mitos.
Ciri-ciri
puisi pada angkatan periode 1953-1961 yaitu :
-
Berupa cerita.
-
Menyelipkan mantra pada balada.
-
Gaya repetisi dan retorik semakin
berkembang.
-
Menggambarkan suasana muram yang penuh
derita.
-
Mengungkapkan masalah sosial.
-
Penciptaan balada dari dongeng kepercayaan.
Para
penyair yang dapat digolongkan dalam periode ini adalah Willibrordus Surendra
(W.S Rendra), Ramadhan Karta Hadimaja, dan Toto Sudarto Bachtiar.
Masa ini didominasi oleh sajak demonstrasi
atau sajak protes yang dibaca untuk mengobarkan semangat para pemuda dalam aksi
demonstrasi, seperti pada tahun 1966 ketika sedang terjadi demonstrasi para
pelajar dan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Lama. Penyair seperti Taufiq
Ismail dan Rendra, membacakan sajak protes mereka didepan para pemuda.
Untuk
mengobarkan semangat aktivitas kreatis angkatan 66, mulai munculah
fasilitas-fasilitas sastra. Fasilitas tersebut antara lain, munculnya majalah
Horison (1966), Budaja Djaja (1968, dan dibangunnya Taman Isail Maruki (TIM),
yang menjadi pusat kebudayaan.
Pada
periode ini berkembang dua aliran besar puisi. Aliran pertama adalah aliran
neo-romantisme yang menegaskan sepi sebagai perlawanan yang bersifat metafisis,
atas dunia. Penyair yang menganut aliran ini adalah Goenawan Mohammad, Sapardi
Djoko Darmono, dan Abdul Hadu W.M.
Aliran
yang kedua adalah aliran intelektualisme, aliran yang menekankan pada
pengamatan kritis tentang dunia dan pengalaman pribadi. Penyair yang yang
beraliran intelektualisme adalah Subagio Sastrowardoyo dan Toety Heraty.
Penyair pada era ini diantaranya adalah Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Darmono,
dan Linus Surjadi A.G.
Pada
periode ini puisi disebut puisi kontemporer, puisi yang muncul pada masa kini
dengan bentuk dan gaya yang tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya, dan
memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Dalam puisi kontemporer,
salah satu yang penting adalah adanya eksplorasi sejumlah kemungkinan baru,
antara lain penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru.
Pada
puisi kontemporer bertema protes, humanisme, religius, perjuangan, dan kritik
sosial. Puisi kontemporer bergaya seperti mantra, menggunakan majas,
bertipografi baru dengan banyak asosiasi bunyi,dan banyaknya penggunaan kata
dari bahasa daerah yang menunjukkan kedaerahaannya. Penyair kontemporer
diantaranya adalah Sutardji Colzoum Bahri, Emha Ainun Najib, dan Sapardi Djoko
Darmono.
Jenis-Jenis Puisi
Puisi
dibedakan menjadi dua yaitu puisi lama dan puisi baru. Puisi lama merupakan
puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan. Aturan puisi lama seperti jumlah
kata yang terdapat dalam 1 baris, jumlah baris yang terdapat dalam 1 bait,
persajakan atau rima, banyak suku kata pada tiap baris, dan irama. Sedangkan
puisi baru adalah puisi yang tidak terikat dengan aturan-aturan tertentu dalam
pembuatannya dan membacanya. Puisi baru tidak terikat dengan aturan terkait
jumlah suku kata, jumlah kata, jumlah baris, rima (sajak) ataupun jumlah bait. Berikut
ini adalah jenis-jenis pada puisi lama dan puisi baru :
-
Mantra :
Mantra merupakan sebuah ucapan-ucapan yang masih dianggap memiliki sebuah
kekuatan gaib.
-
Pantun :
Pantun merupakan salah satu puisi lama yang mempunyai ciri bersajak a-b-a-b,
tiap baris terdiri atas 8 hingga 12 suku kata, 2 baris pada awal pantun disebut
sampiran, 2 baris berikutnya disebut sebagai isi, tiap bait ada 4 baris.
-
Karmina :
Karmina merupakan salah satu jenis pantun yang kilat seperti sebuah pantun
tetapi sangat pendek.
-
Seloka :
Seloka adalah pantun yang berkait serta di dalamnya mengandung ibarat atau
kiasan dan berisi nasihat-nasihat.
-
Gurindam :
Gurindam adalah puisi yang terdiri dari tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a,
dan biasanya berisi nasihat.
-
Syair :
Syair merupakan puisi yang
bersumber dari negara Arab dan dengan
ciri pada tiap bait ada 4 baris, bersajak a-a-a-a, biasanya berisi
nasihat atau sebuah cerita.
-
Talibun :
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari bilangan genap seperti 6,8 ataupun 10
baris.
- Balada : Balada merupakan puisi tentang cerita
yang terdiri dari tiga bait dan masing-masing dengan delapan larik serta dengan
skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Lalu skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c.
Pada larik terakhir dalam bait pertama digunakan refren dalam bait-bait
selajutnya.
- Himne : Himne merupakan puisi yang digunakan
sebagai pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau seorang pahlawan.
- Ode : Ode adalah puisi sanjungan bagi
orang yang telah berjasa. Nada serta gayanya sangat resmi, bernada sangat
anggun, dan membahas sesuatu yang mulia, memiliki sifat yang menyanjung baik
itu terhadap pribadi tertentu atau suatu peristiwa umum.
- Epicgram : Epigram adalah puisi yang memiliki isi
berupa tuntunan atau ajaran hidup.
- Romansa : Romansa adalah puisi yang berisi tentang
luapan perasaan penyair tentang cinta kasih.
- Elegi : Elegi adalah puisi yang memiliki isi
tentang kesedihan.
- Satir : Satire adalah puisi yang berisi
tentang sindiran atau suatu kritikan.
- Distikon : Distikon adalah suatu puisi yang tiap
baitnya terdiri dari 2 baris (puisi 2 seuntai).
- Terzina : Terzinaa adalah puisi yang pada tiap
baitnya terdiri dari 3 baris (puisi 3 seuntai).
- Kuatrain : Kuatrain adalah puisi yang pada tiap
baitnya terdiri dari 4 baris (puisi 4 seuntai).
- Kuin : Kuin adalah puisi yang pada tiap
baitnya terdiri dari 5 baris (puisi 5 seuntai).
- Sektet : Sektet adalah puisi yang pada tiap
baitnya terdiri dari 6 baris (puisi 6 seuntai).
- Septime : Septime, adalah puisi yang pada tiap
baitnya terdiri dari 7 baris (puisi 7 seuntai).
- Oktaf
atau Stanza : Oktaf atau Stanza merupakan puisi yang pada tiap baitnya terdiri
8 baris (double kutrain atau dapat disebut juga dengan puisi 8 seuntai).
- Soneta : Soneta merupakan salah satu jenis puisi
yang terdiri dari 14 baris yang terbagi menjadi 2, 2 bait pertama masing-masing
terdiri dari 4 baris dan 2 bait kedua masing-masing 3 baris.
Ciri-Ciri Puisi
Puisi
lama dan puisi baru tentunya memiliki ciri-ciri yang berbeda. Berikut ini
adalah ciri-ciri yang dimiliki puisi lama dan puisi baru :
- Puisi lama bisanya berupa puisi rakyat
dan tidak diketahui nama pengarangnya.
-
Puisi lama masih terikat oleh berbagai aturan-aturan seperti dari jumlah baris
pada setiap baitnya, sajak serta jumlah suku kata pada setiap barisnya.
-
Disampaikan dari mulut ke mulut dan dapat disebut juga dengan sastra lisan.
-
Menggunakan majas atau gaya bahasa tetap dan klise.
-
Biasanya berisikan tentang
kerajaan,fantastis,serta istanasentris.
-
Diketahui nama pengarangnya, berbeda dengan puisi lama yang tidak diketahui
nama pengarangnya.
-
Perkembangannya secara lisan serta tertulis.
-
Tidak terikat oleh berbagai aturan-aturan seperti rima, jumlah baris dan suku
kata.
-
Menggunakan majas yang dinamis atau berubah-ubah.
-
Biasanya berisikan tentang kehidupan.
-
Biasanya lebih banyak memakai sajak pantun dan syair.
-
Memiliki bentuk yang lebih rapi dan simetris.
-
Memiliki rima akhir yang teratur.
-
Pada tiap-tiap barisnya berupa kesatuan sintaksis.
Maksud dan Tujuan Sastrawan Membuat Puisi
Umumnya
penyair bertujuan untuk mengekspresikan isi hatinya, hal yang membuat dirinya
bimbang yang tidak bisa ia sampaikan hanya dengan lisan. Tetapi ada juga
penulis yang membuat puisi untuk kesenangan dan kepuasan hati untuk
menyampaikan imajinasinya. Selain yang telah disebutkan bahwa puisi dibuat
dengan tujuan untuk menyampaikan keluh kesah dan kritik serta keresahan yang
kita hadapi dalam suatu permasalahan. Sehingga dengan adanya puisi ini, apa
yang ingin disampaikan bisa tersampaikan kepada seseorang yang kita tuju.
Memberikan motivasi kepada orang lain maupun diri kita sendiri yang membacanya
dan membangkitkan semangat.
Contoh Puisi Beserta Analisisnya
Setiap
puisi yang kita temui tentu puisi tersebut memiliki kata-kata yang sangat indah
jika kita baca. Membuat kita seolah-olah terbawa suasana terhadap puisi apa
yang dibaca. Puisi yang kita temui memiliki makna atau maksud tertentu di
dalamnya. Entah isinya pengungkapan rasa cinta (puisi romantis), kritik , atau
mengungkapkan permasalahan sosial. Berikut ini ada contoh puisi beserta
analisisnya.
Puisi 1
Keindahan
Setiap
hari aku bisa melihat
Setiap
hari aku bisa meraba
Setiap
hari aku bisa bernapas
Yaa
aku tau..
Tapii
sebenarnya...
Tidak
tau apa yang dilihat
Tidak
tau apa yang diraba
Tidak
tau apa yang dihirup
Apakah
itu indah ?
Apakah
itu buruk ?
Atau
tidak baik?
Entah
aku tak tau...
Yang
aku harap itu adalah kebaikan
Yang
aku harap itu hal baik
Dan
aku harap itu adalah keindahan
Yang
diberikan sang kuasa
Dan
aku bisa pastikan
Semua
hal baik
berasal
dari hal baik itu sendiri
Inilah
hidup, sebuah pilihan
Tergantung
seseorang memilihnya
Untuk
memilih yang baik apa buruk, dari sebuah kehidupan
Analisis Puisi 1
- Tema : Kesedihan dan Kebingungan.
- Amanat : Terkadang keindahan adalah suatu hal
yang bisa kita rasakan, tapi diwaktu yang sama keindahan tersebut ternyata
hanya keindahan semu yang ada dikhayalan kita. Baik Buruk nya hal yang kita
bayangkan akan tetap menjadi khayalan saja. Sama seperti perlakuan kita. Kita
selalu bisa melakukan apapun yang kita mau. Melihat, Meraba, Bernapas, semua
adalah hal yang mudah untuk kita lakukan. Tapi disaat yang bersamaan kita
kadang bingung apakah yang kita lakukan benar atau salah, baik atau buruk.
- Citra
yang digunakan : Citraan yang
digunakan adalah citra perasaan. Puisi tersebut merupakan ungkapan perasaan
penyair. Untuk mengungkapkan perasaannya tersebut, penyair memilih dan
menggunakan kata-kata tertentu untuk menggambarkan dan mewakili perasaannya
itu. Sehingga pembaca puisi dapat ikut hanyut dalam perasaan penyair. Perasaan
itu dapat berupa rasa sedih, gembira, haru, marah, cemas, kesepian, dan
sebagainya.
- Rima
dalam puisi : Rima merupakan
persamaan bunyi yang terdapat pada awal, tengah dan akhir baris dalam puisi. Di
dalam puisi tersebut tidak terdapat rima, puisi ini termasuk dalam kategori
puisi baru yang tidak mengutamakan rima. Dalam puisi tersebut hanya terdapat
pengulangan beberapa kalimat yang sama seperti melihat dan dilihat serta lain
sebagainya.
- Diksi : Diksi adalah pilihan kata. Makna diksi
sebenarnya jauh lebih luas dari itu. Diksi dapat didefinisikan sebagai gaya
berbicara atau menulis, ditentukan oleh pilihan kata oleh pembicara atau
penulis. Dalam puisi tersebut diksi yang digunakan adalah bahasa sehari-hari
yang menggunakan kata-kata umum dalam percakapan sehari-hari, yang mungkin
berbeda di berbagai daerah atau komunitas.
- Irama : Irama adalah pergantian tinggi, rendah,
panjang pendek, dan keras lembut pada ucapan bunyi. Pada puisi diatas,
pengucapan bunyinya sedang ke rendah dilihat dari kata-kata yang dipakai dalam
puisi tersebut.
- Sudut
pandang : Dalam penulisan puisi
ini, penulis menggunakan sudut pandang Orang pertama yaitu “aku”
Puisi 2
PUKUL 6
Entah
ini cahaya jingga atau senja.
Yang
jelas rasa ku sudah berbeda.
Tidak
seperti waktu itu yang selalu ingin bersama.
Bahkan,
kita pernah sama-sama berjanji.
Untuk
menikah dan mencintai.
Untuk
bersama dan tidak saling menyakiti.
Cahaya
senja mulai hilang.
Pertanda
bahwa kau akan hilang.
Cahaya
jingga makin keras.
Pertanda
bahwa kumakin stress dan tidak waras.
Akhir
cerita kita berpisah.
Dan,
kau tau apa.
Aku
tak dalam keadaan yang baik-baik saja.
Analisis Puisi 2
- Tema : Percintaan dalam kesedihan.
- Amanat : Memiliki hubungan percintaan yang
menyedihkan tentunya semua orang menghindari hal tersebut. Kesetiaan, komitmen,
serta saling percaya satu sama lain merupakan unsur yang terpenting dalam melanggengkan
hubungan percintaan.
- Citra
yang digunakan : Citra yang digunakan
pada puisi tersebut adalah citra perasaan. Puisi yang ditulis oleh penyair
merupakan bentuk luapan perasaan sedih yang diderita penyair dengan kata-kata
sedih, dijelaskan bahwa dalam hatinya ia memiliki rasa cinta yang sangat dalam
terhadap kekasihnya yang akhirnya berpisah.
- Rima
pada puisi : Rima merupakan
persamaan bunyi yang terdapat pada awal, tengah dan akhir baris dalam puisi. Rima
pada puisi tersebut menggunakan rima akhir. Rima akhir yang terletak di akhir
pada setiap baris puisi tersebut dengan pola rima a-a-a, i-i-i, ng-ng, as-as, dan
a-a-a.
- Diksi : Diksi dapat didefinisikan sebagai gaya
berbicara atau menulis, ditentukan oleh pilihan kata oleh pembicara atau
penulis. Diksi yang digunakan penyair pada puisi tersebut menggunakan bahasa
sehari-hari.
- Sudut
pandang : Sudut pandang yang
digunakan adalah sudut pandang orang pertama yaitu “aku”.
Kesimpulan
Puisi
merupakan salah satu jenis kesusastraan yang ada di Indonesia. Puisi menjadi
karya tulis yang populer baik dalam bentuk tulisan dalam kertas maupun berupa
ketikan melalui komputer. Puisi adalah kesusastraan yang dibuat oleh seorang
penyair menggunakan kekuatan bahasa yang menggambarkan suatu perasaan dan
penyampaiannya membuat pendengarnya seolah-olah dapat merasakan apa yang
dimaksud penyair. Puisi yang dibuat bertujuan untuk mengekspresikan isi hati
baik berupa rasa senang, kepuasan, keluh kesah, dan kritik terhadap suatu
permasalahan.
Rahayu, M. (2007). Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Grasindo.