Senin, 29 Juni 2020

Pengertian Puisi, Sejarah Puisi, Jenis-Jenis Puisi, Ciri-Ciri Puisi, Tujuan Membuat Puisi, dan Contoh Puisi Beserta Aanalisisnya


PUISI MERUPAKAN KESUSASTRAAN INDONESIA



Puisi merupakan salah satu jenis kesusastraan yang ada di Indonesia. Puisi menjadi karya tulis yang populer baik dalam bentuk tulisan dalam kertas maupun berupa ketikan melalui komputer. Zaman sekarang yang sudah modern ini membuat kesusastraan puisi semakin berkembang dan semakin mudah untuk kita jumpai di internet. Tak hanya itu, banyak sastrawan puisi yang lahir seiring dengan perkembangan zaman. Contohnya seperti Aan Mansyur, Dea Anugerah, Norman Erikson Pasaribu, Addimas Imanuel, Okky Puspa Madasari, Sabda Armandio, Bernard Batubara, dan masih banyak lagi sastrawan yang lahir pada era milenial ini.



Pengertian Puisi

Secara umum menyebutkan bahwa puisi adalah kesusastraan yang dibuat oleh seorang sastrawan atau penulis untuk mengungkapkan perasaan hati penyairnya. Puisi dilantunkan dengan irama yang indah, memiliki rima, dibentuk berbait-bait, serta mengandung penuh makna. Puisi dalam penyampaiannya seolah-olah pendengarnya dapat merasakan apa yang dimaksud penyair dalam suatu karya puisi. Banyak para ahli yang mengemukakan apa definisi dari puisi. Berikut ini adalah beberapa definisi puisi dari para ahli :

a. Herman J. Waluyo

     Menurutnya definisi dari puisi adalah suatu karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan si penyair dengan cara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dalam pengonsentrasian sebuah struktur fisik dan struktur batinnya. Jadi pada intinya adalah bahwa puisi dirangkai dengan bahasa yang padu dan ditulis sesuai dengan perasaan menggambarkan terhadap suatu hal.

b. Usman Awan

     Menurut Usman Awan, puisi bukanlah suatu nyanyian orang putus asa yang mencari ketenangan dan kepuasan dalam puisi yang ditulisnya. Jadi menurutnya bentuk puisi dirangkai dan disusun tak hanya mengungkapkan kesedihan, tetapi banyak bentuk ungkapan ekspresi lainnya.

c. Putu Arya Tirtawirya

     Pengertian puisi menurut Putu Arya ialah suatu ungkapan secara implisit dan samar, maknanya yang tersirat, dimana kata-katanya condong pada makna konotatif.

d. Herman Waluyo

     Puisi menurut definisi Herman Waluyo adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia.

e. Muhammad Hj. Salleh

     Puisi ialah sebuah bentuk karya sastra yang kental dengan musik bahasa serta suatu kebijaksanaan oleh si penyair dan tradisinya. Karena semua kekentalan itu, sesudah puisi tersebut dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana.

Definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut dapat membuat kita lebih paham mengenai arti dari puisi. Jadi arti dari puisi tersendiri adalah kesusastraan yang dibuat oleh seorang penyair menggunakan kekuatan bahasa yang menggambarkan suatu perasaan dan penyampaiannya membuat pendengarnya seolah-olah dapat merasakan apa yang dimaksud penyair.



Sejarah Puisi

Banyak karya kuno, dari Veda India (1700-1200 SM) dan Zoroaster's Gathas (1.200-900 SM) ke Odyssey (800-675 SM), tampaknya telah disusun dalam bentuk puisi untuk membantu proses menghafal di kalangan masyarakat kuno. Puisi muncul di antara catatan-catatan paling awal pada masa kebudayaan yang baru mengenal huruf. Puisi tertua yang ada di daerah Barat adalah Epos Gilgames pada tahun ke-3 sebelum masehi di Sumeria (di Mesopotamia, sekarang Irak) yang ditulis dalam naskah tulisan kuno berbentuk baji pada tablet tanah liat dan papirus sebagai medianya.

Sejarah perkembangan puisi di Indonesia dikenal dengan berbagai jenis puisi sebagai pendukung perkembangan struktur pada puisi. Puisi pada angkatan balai pustaka puisi masih berupa mantra, pantun, dan syair. Pada angkatan pujangga baru puisi mengalami perkembangan dengan cara melepaskan ikatan-ikatan pada puisi lama. Berikut ini adalah penjelasan detil pada perkembangan puisi di Indonesia hingga sekarang :

a. Balai Pustaka

     Pada angkatan ini, puisi masih berupa mantra, pantun, dan syair, yang merupakan puisi terikat. Mantra merupakan jenis puisi tertua yang terdapat di dalam kesusastraan daerah di seluruh Indonesia. Kumpulan pilihan kata-kata yang dianggap gaib dan digunakan manusia untuk memohon sesuatu dari Tuhan. sehingga mantra tidak hanya memiliki kekuatan kata melainkan juga kekuatan batin. Pantun dan Syair, puisi lama yang struktur tematik atau struktur makna dikemukkan menurut aturan jenis pantun atau syair, dalam hal ini, pantun dan syair masih berupa puisi terikat. Pantun dan Syair merupakan puisi lama yang struktur tematik atau struktur makna dikemukkan menurut aturan jenis pantun atau syair, dalam hal ini, pantun dan syair masih berupa puisi terikat.

b. Pujangga Baru (1933-1945)

     Jika pada angkatan balai pustaka penulisan puisi masih banyak dipengaruhi oleh puisi lama, maka pada angkatan Pujangga Baru diciptakan puisi baru, yang melepaskan ikatan-ikatan puisi lama. Sehingga munculnya jenis-jenis puisi baru, yaitu : distichon (2 baris), tersina (3 baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), oktaf (8 baris), soneta (14 baris). Dalam periode ini terdapat beberapa julukan untuk penyair Indonesia, seperti Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru, dan ia disebut oleh H.B. Jassin sebagai Penyair Dewa Irama. J.E. Tatengkeng disebut sebagai Penyair Api Naionalisme, dan sebagainya. Para penyair yang dapat dikategorikan masuk dalam periode Pujangga Baru diantaranya adalah Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, Jan Engel Tatengkeng, Asmara Hadi.

c. Angkatan 45 (1945-1953)

     Pada angkatan ini bentuk puisi soneta, tersina, dan sebagainya tidak dipergunakan lagi. Dasar angkatan 45 ini adalah adanya ‘Surat Keperecayaan Gelanggang’, yang berbunyi :

     Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.

Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.
Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.

Pada angkatan 45 puisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-          Memiliki struktur bebas.
-          Kebanyakan beraliran ekspresionisme dan realisme.
-          Mengungkapkan pengalaman batin penyair.
-          Menggunakan bahasa sehari-hari.
-          Banyak puisi bergaya sinisme dan ironi.
-          Puisinya juga menyatakan permasalahan kemasyarakatan, dan kemanusiaan.
Penyair pada periode angkatan ini diantaranya ada Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Harjadi S. Hartowardojo.

d. Periode 1953-1961

     Pada periode ini membicarakan masalah kemasyarakatan yang menyangkut warna kedaerahan. Sifat revolusioner yang berapi-api, mulai merada. Mulai banyaknya puisi beraliran romantik dan kedaerahan dengan gaya penceritaan balada (sajak sederhana). Puisi pada periode ini banyak yang mengungkapkan subkultur, suasana muram, masalah sosial, cerita rakyat, dan mitos.

Ciri-ciri puisi pada angkatan periode 1953-1961 yaitu :
-          Berupa cerita.
-          Menyelipkan mantra pada balada.
-          Gaya repetisi dan retorik semakin berkembang.
-          Menggambarkan suasana muram yang penuh derita.
-          Mengungkapkan masalah sosial.
-          Penciptaan balada dari dongeng kepercayaan.

Para penyair yang dapat digolongkan dalam periode ini adalah Willibrordus Surendra (W.S Rendra), Ramadhan Karta Hadimaja, dan Toto Sudarto Bachtiar.

e. Angkatan 66 (1963-1970)

     Masa ini didominasi oleh sajak demonstrasi atau sajak protes yang dibaca untuk mengobarkan semangat para pemuda dalam aksi demonstrasi, seperti pada tahun 1966 ketika sedang terjadi demonstrasi para pelajar dan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Lama. Penyair seperti Taufiq Ismail dan Rendra, membacakan sajak protes mereka didepan para pemuda.

Untuk mengobarkan semangat aktivitas kreatis angkatan 66, mulai munculah fasilitas-fasilitas sastra. Fasilitas tersebut antara lain, munculnya majalah Horison (1966), Budaja Djaja (1968, dan dibangunnya Taman Isail Maruki (TIM), yang menjadi pusat kebudayaan.

Pada periode ini berkembang dua aliran besar puisi. Aliran pertama adalah aliran neo-romantisme yang menegaskan sepi sebagai perlawanan yang bersifat metafisis, atas dunia. Penyair yang menganut aliran ini adalah Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Darmono, dan Abdul Hadu W.M.

Aliran yang kedua adalah aliran intelektualisme, aliran yang menekankan pada pengamatan kritis tentang dunia dan pengalaman pribadi. Penyair yang yang beraliran intelektualisme adalah Subagio Sastrowardoyo dan Toety Heraty. Penyair pada era ini diantaranya adalah Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Darmono, dan Linus Surjadi A.G.

f. Puisi Kontemporer (1970 – sekarang)

Pada periode ini puisi disebut puisi kontemporer, puisi yang muncul pada masa kini dengan bentuk dan gaya yang tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya, dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Dalam puisi kontemporer, salah satu yang penting adalah adanya eksplorasi sejumlah kemungkinan baru, antara lain penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru.

Pada puisi kontemporer bertema protes, humanisme, religius, perjuangan, dan kritik sosial. Puisi kontemporer bergaya seperti mantra, menggunakan majas, bertipografi baru dengan banyak asosiasi bunyi,dan banyaknya penggunaan kata dari bahasa daerah yang menunjukkan kedaerahaannya. Penyair kontemporer diantaranya adalah Sutardji Colzoum Bahri, Emha Ainun Najib, dan Sapardi Djoko Darmono.

Jenis-Jenis Puisi

Puisi dibedakan menjadi dua yaitu puisi lama dan puisi baru. Puisi lama merupakan puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan. Aturan puisi lama seperti jumlah kata yang terdapat dalam 1 baris, jumlah baris yang terdapat dalam 1 bait, persajakan atau rima, banyak suku kata pada tiap baris, dan irama. Sedangkan puisi baru adalah puisi yang tidak terikat dengan aturan-aturan tertentu dalam pembuatannya dan membacanya. Puisi baru tidak terikat dengan aturan terkait jumlah suku kata, jumlah kata, jumlah baris, rima (sajak) ataupun jumlah bait. Berikut ini adalah jenis-jenis pada puisi lama dan puisi baru :

a. Jenis-Jenis Puisi Lama

-          Mantra      : Mantra merupakan sebuah ucapan-ucapan yang masih dianggap memiliki sebuah kekuatan gaib.

-          Pantun      : Pantun merupakan salah satu puisi lama yang mempunyai ciri bersajak a-b-a-b, tiap baris terdiri atas 8 hingga 12 suku kata, 2 baris pada awal pantun disebut sampiran, 2 baris berikutnya disebut sebagai isi, tiap bait ada 4 baris.

-          Karmina   : Karmina merupakan salah satu jenis pantun yang kilat seperti sebuah pantun tetapi sangat pendek.

-          Seloka      : Seloka adalah pantun yang berkait serta di dalamnya mengandung ibarat atau kiasan dan berisi nasihat-nasihat.

-          Gurindam : Gurindam adalah puisi yang terdiri dari tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, dan biasanya berisi nasihat.

-          Syair         : Syair merupakan  puisi  yang  bersumber dari negara Arab dan dengan  ciri pada tiap bait ada 4 baris, bersajak a-a-a-a, biasanya berisi nasihat atau sebuah cerita.

-          Talibun     : Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri  dari bilangan genap seperti 6,8 ataupun 10 baris.

b. Jenis-Jenis Puisi Baru

-       Balada      : Balada merupakan puisi tentang cerita yang terdiri dari tiga bait dan masing-masing dengan delapan larik serta dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Lalu skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Pada larik terakhir dalam bait pertama digunakan refren dalam bait-bait selajutnya.

-       Himne      : Himne merupakan puisi yang digunakan sebagai pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau seorang pahlawan.

-       Ode          : Ode adalah puisi sanjungan bagi orang yang telah berjasa. Nada serta gayanya sangat resmi, bernada sangat anggun, dan membahas sesuatu yang mulia, memiliki sifat yang menyanjung baik itu terhadap pribadi tertentu atau suatu peristiwa umum.

-       Epicgram  : Epigram adalah puisi yang memiliki isi berupa tuntunan atau ajaran hidup.

-       Romansa  : Romansa adalah puisi yang berisi tentang luapan perasaan penyair tentang cinta kasih.

-       Elegi         : Elegi adalah puisi yang memiliki isi tentang kesedihan.

-       Satir          : Satire adalah puisi yang berisi tentang sindiran atau suatu kritikan.

-       Distikon   : Distikon adalah suatu puisi yang tiap baitnya terdiri dari 2 baris (puisi 2 seuntai).

-       Terzina     : Terzinaa adalah puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 3 baris (puisi 3 seuntai).

-       Kuatrain   : Kuatrain adalah puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 4 baris (puisi 4 seuntai).

-       Kuin         : Kuin adalah puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 5 baris (puisi 5 seuntai).

-       Sektet       : Sektet adalah puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 6 baris (puisi 6 seuntai).

-       Septime    : Septime, adalah puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 7 baris (puisi 7 seuntai).

-       Oktaf atau Stanza : Oktaf atau Stanza merupakan puisi yang pada tiap baitnya terdiri 8 baris (double kutrain atau dapat disebut juga dengan puisi 8 seuntai).

-       Soneta      : Soneta merupakan salah satu jenis puisi yang terdiri dari 14 baris yang terbagi menjadi 2, 2 bait pertama masing-masing terdiri dari 4 baris dan 2 bait kedua masing-masing 3 baris.

Ciri-Ciri Puisi


Puisi lama dan puisi baru tentunya memiliki ciri-ciri yang berbeda. Berikut ini adalah ciri-ciri yang dimiliki puisi lama dan puisi baru :

a. Ciri-Ciri Puisi Lama

     - Puisi lama bisanya berupa puisi rakyat dan tidak diketahui nama pengarangnya.

- Puisi lama masih terikat oleh berbagai aturan-aturan seperti dari jumlah baris pada setiap baitnya, sajak serta jumlah suku kata pada setiap barisnya.

- Disampaikan dari mulut ke mulut dan dapat disebut juga dengan sastra lisan.

- Menggunakan majas atau gaya bahasa tetap dan klise.

- Biasanya  berisikan tentang kerajaan,fantastis,serta istanasentris.

b. Ciri-Ciri Puisi Baru

- Diketahui nama pengarangnya, berbeda dengan puisi lama yang tidak diketahui nama pengarangnya.

- Perkembangannya secara lisan serta tertulis.

- Tidak terikat oleh berbagai aturan-aturan seperti rima, jumlah baris dan suku kata.

- Menggunakan majas yang dinamis atau berubah-ubah.

- Biasanya berisikan tentang kehidupan.

- Biasanya lebih banyak memakai sajak pantun dan syair.

- Memiliki bentuk yang lebih rapi dan simetris.

- Memiliki rima akhir yang teratur.

- Pada tiap-tiap barisnya berupa kesatuan sintaksis.

Maksud dan Tujuan Sastrawan Membuat Puisi

Umumnya penyair bertujuan untuk mengekspresikan isi hatinya, hal yang membuat dirinya bimbang yang tidak bisa ia sampaikan hanya dengan lisan. Tetapi ada juga penulis yang membuat puisi untuk kesenangan dan kepuasan hati untuk menyampaikan imajinasinya. Selain yang telah disebutkan bahwa puisi dibuat dengan tujuan untuk menyampaikan keluh kesah dan kritik serta keresahan yang kita hadapi dalam suatu permasalahan. Sehingga dengan adanya puisi ini, apa yang ingin disampaikan bisa tersampaikan kepada seseorang yang kita tuju. Memberikan motivasi kepada orang lain maupun diri kita sendiri yang membacanya dan membangkitkan semangat.

Contoh Puisi Beserta Analisisnya

Setiap puisi yang kita temui tentu puisi tersebut memiliki kata-kata yang sangat indah jika kita baca. Membuat kita seolah-olah terbawa suasana terhadap puisi apa yang dibaca. Puisi yang kita temui memiliki makna atau maksud tertentu di dalamnya. Entah isinya pengungkapan rasa cinta (puisi romantis), kritik , atau mengungkapkan permasalahan sosial. Berikut ini ada contoh puisi beserta analisisnya.

Puisi 1

Keindahan
Setiap hari aku bisa melihat
Setiap hari aku bisa meraba
Setiap hari aku bisa bernapas
Yaa aku tau..

Tapii sebenarnya...
Tidak tau apa yang dilihat
Tidak tau apa yang diraba
Tidak tau apa yang dihirup

Apakah itu indah ?
Apakah itu buruk ?
Atau tidak baik?
Entah aku tak tau...

Yang aku harap itu adalah kebaikan
Yang aku harap itu hal baik
Dan aku harap itu adalah keindahan
Yang diberikan sang kuasa

Dan aku bisa pastikan
Semua hal baik
berasal dari hal baik itu sendiri

Inilah hidup, sebuah pilihan
Tergantung seseorang memilihnya
Untuk memilih yang baik apa buruk, dari sebuah kehidupan

Analisis Puisi 1

-       Tema             : Kesedihan dan Kebingungan.

-       Amanat         : Terkadang keindahan adalah suatu hal yang bisa kita rasakan, tapi diwaktu yang sama keindahan tersebut ternyata hanya keindahan semu yang ada dikhayalan kita. Baik Buruk nya hal yang kita bayangkan akan tetap menjadi khayalan saja. Sama seperti perlakuan kita. Kita selalu bisa melakukan apapun yang kita mau. Melihat, Meraba, Bernapas, semua adalah hal yang mudah untuk kita lakukan. Tapi disaat yang bersamaan kita kadang bingung apakah yang kita lakukan benar atau salah, baik atau buruk.

-       Citra yang digunakan           : Citraan yang digunakan adalah citra perasaan. Puisi tersebut merupakan ungkapan perasaan penyair. Untuk mengungkapkan perasaannya tersebut, penyair memilih dan menggunakan kata-kata tertentu untuk menggambarkan dan mewakili perasaannya itu. Sehingga pembaca puisi dapat ikut hanyut dalam perasaan penyair. Perasaan itu dapat berupa rasa sedih, gembira, haru, marah, cemas, kesepian, dan sebagainya.

-       Rima dalam puisi      : Rima merupakan persamaan bunyi yang terdapat pada awal, tengah dan akhir baris dalam puisi. Di dalam puisi tersebut tidak terdapat rima, puisi ini termasuk dalam kategori puisi baru yang tidak mengutamakan rima. Dalam puisi tersebut hanya terdapat pengulangan beberapa kalimat yang sama seperti melihat dan dilihat serta lain sebagainya.

-       Diksi : Diksi adalah pilihan kata. Makna diksi sebenarnya jauh lebih luas dari itu. Diksi dapat didefinisikan sebagai gaya berbicara atau menulis, ditentukan oleh pilihan kata oleh pembicara atau penulis. Dalam puisi tersebut diksi yang digunakan adalah bahasa sehari-hari yang menggunakan kata-kata umum dalam percakapan sehari-hari, yang mungkin berbeda di berbagai daerah atau komunitas.

-       Irama : Irama adalah pergantian tinggi, rendah, panjang pendek, dan keras lembut pada ucapan bunyi. Pada puisi diatas, pengucapan bunyinya sedang ke rendah dilihat dari kata-kata yang dipakai dalam puisi tersebut.

-       Sudut pandang         : Dalam penulisan puisi ini, penulis menggunakan sudut pandang Orang pertama yaitu “aku”

Puisi 2

PUKUL 6
Entah ini cahaya jingga atau senja.
Yang jelas rasa ku sudah berbeda.
Tidak seperti waktu itu yang selalu ingin bersama.

Bahkan, kita pernah sama-sama berjanji.
Untuk menikah dan mencintai.
Untuk bersama dan tidak saling menyakiti.

Cahaya senja mulai hilang.
Pertanda bahwa kau akan hilang.

Cahaya jingga makin keras.
Pertanda bahwa kumakin stress dan tidak waras.

Akhir cerita kita berpisah.
Dan, kau tau apa.
Aku tak dalam keadaan yang baik-baik saja.

Analisis Puisi 2

-       Tema             : Percintaan dalam kesedihan.

-       Amanat         : Memiliki hubungan percintaan yang menyedihkan tentunya semua orang menghindari hal tersebut. Kesetiaan, komitmen, serta saling percaya satu sama lain merupakan unsur yang terpenting dalam melanggengkan hubungan percintaan.

-       Citra yang digunakan  : Citra yang digunakan pada puisi tersebut adalah citra perasaan. Puisi yang ditulis oleh penyair merupakan bentuk luapan perasaan sedih yang diderita penyair dengan kata-kata sedih, dijelaskan bahwa dalam hatinya ia memiliki rasa cinta yang sangat dalam terhadap kekasihnya yang akhirnya berpisah.

-       Rima pada puisi        : Rima merupakan persamaan bunyi yang terdapat pada awal, tengah dan akhir baris dalam puisi. Rima pada puisi tersebut menggunakan rima akhir. Rima akhir yang terletak di akhir pada setiap baris puisi tersebut dengan pola rima a-a-a, i-i-i, ng-ng, as-as, dan a-a-a.

-       Diksi : Diksi dapat didefinisikan sebagai gaya berbicara atau menulis, ditentukan oleh pilihan kata oleh pembicara atau penulis. Diksi yang digunakan penyair pada puisi tersebut menggunakan bahasa sehari-hari.

-       Sudut pandang  : Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama yaitu “aku”. 

Kesimpulan

Puisi merupakan salah satu jenis kesusastraan yang ada di Indonesia. Puisi menjadi karya tulis yang populer baik dalam bentuk tulisan dalam kertas maupun berupa ketikan melalui komputer. Puisi adalah kesusastraan yang dibuat oleh seorang penyair menggunakan kekuatan bahasa yang menggambarkan suatu perasaan dan penyampaiannya membuat pendengarnya seolah-olah dapat merasakan apa yang dimaksud penyair. Puisi yang dibuat bertujuan untuk mengekspresikan isi hati baik berupa rasa senang, kepuasan, keluh kesah, dan kritik terhadap suatu permasalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Rahayu, M. (2007). Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Grasindo.
Salamadian. 2017. Pengertian Sudut Pandang. https://salamadian.com/pengertian-sudut-pandang-novel-cerpen/ (diakses tanggal 28 Juni 2020)
Abdi Pringadi. 2018. Diksi. https://catatanpringadi.com/diksi-dalam-puisi/ (diakses tanggal 28 Juni 2020)
Farhan Muhammad. Sejarah Puisi. https://muhfarhanblog.wordpress.com/2017/05/02/sejarah-perkembangan-puisi-di-indonesia/ (diakses tanggal 28 Juni 2020)